Artikel Kesehatan
kasrs

hotline

RS Syarif Hidayatullah – Gigi bungsu, atau secara medis dikenal sebagai geraham ketiga (third molar), sering kali menjadi topik yang menakutkan bagi banyak orang. Muncul di penghujung masa remaja atau awal kedewasaan (usia 17-25 tahun), gigi ini seharusnya menjadi pelengkap fungsional dalam sistem pengunyah. Namun, karena keterbatasan ruang pada rahang manusia modern, gigi ini sering kali gagal tumbuh secara normal dan terjebak di dalam gusi atau tulang. Kondisi inilah yang disebut sebagai Impaksi Gigi Bungsu.

Banyak pasien di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah datang dengan keluhan nyeri rahang yang menjalar hingga ke telinga, tanpa menyadari bahwa sumber masalahnya adalah gigi bungsu yang tumbuh miring. Memahami impaksi bukan sekadar mengetahui adanya rasa sakit, tetapi menyadari bahwa ini adalah kondisi anatomis yang memerlukan penanganan spesialis bedah mulut sebelum merusak kesehatan gigi dan jaringan saraf di sekitarnya.

Gigi BungsuIlustrasi Gigi Bungsu (Impaksi). (Foto: Dok. RS Syarif Hidayatullah)

Apa Itu Impaksi Gigi Bungsu secara Medis?

Secara klinis, impaksi didefinisikan sebagai kegagalan gigi untuk tumbuh sepenuhnya ke posisi fungsional yang benar pada waktunya, karena terhalang oleh hambatan fisik berupa gigi tetangga, jaringan gusi yang padat, atau tulang rahang yang tebal.

Berdasarkan tingkat keparahannya, impaksi dibagi menjadi dua kategori besar:

  1. Impaksi Jaringan Lunak (Soft Tissue Impaction): Mahkota gigi telah menembus tulang namun masih tertutup oleh jaringan gusi.
  2. Impaksi Tulang (Bone Impaction): Gigi masih sepenuhnya atau sebagian tertanam di dalam tulang rahang. Kondisi ini biasanya memerlukan prosedur bedah yang lebih kompleks.

 

Klasifikasi Posisi Impaksi: Bagaimana Gigi Anda Tumbuh?

Dokter spesialis bedah mulut di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah menggunakan klasifikasi khusus untuk menentukan tingkat kesulitan operasi, di antaranya:

  • Mesioangular (Mesial): Gigi miring ke arah depan, menekan gigi geraham kedua. Ini adalah jenis yang paling sering memicu kerusakan gigi tetangga.
  • Distoangular (Distal): Gigi miring ke arah belakang, sering kali menyebabkan nyeri yang menjalar ke arah telinga atau sendi rahang (TMJ).
  • Horizontal: Gigi tumbuh mendatar seolah-olah sedang "tidur" di dalam tulang rahang. Tekanan yang diberikan jenis ini sangat besar.
  • Vertical: Gigi berada pada posisi tegak, namun gagal muncul ke permukaan karena rahang terlalu sempit.

 

Mengapa Impaksi Harus Segera Ditangani? (Bahaya Komplikasi)

Mengabaikan impaksi gigi bungsu hanya karena rasa nyerinya bersifat hilang-timbul adalah sebuah kesalahan medis. Berikut adalah bahaya yang mengintai jika impaksi dibiarkan tanpa tindakan:

  1. Perikoronitis (Infeksi Akut): Ini adalah komplikasi paling umum. Sisa makanan terjebak di bawah gusi yang menutupi gigi impaksi (operculum), menjadi sarang bakteri, dan menyebabkan peradangan hebat, nanah (abses), hingga demam.
  2. Karies dan Kerusakan Gigi Tetangga: Tekanan gigi bungsu dapat merusak enamel gigi geraham kedua di depannya. Karena sulit dibersihkan, kedua gigi tersebut bisa berlubang secara bersamaan.
  3. Kista dan Resorpsi Tulang: Kantung benih yang membungkus gigi impaksi dapat terisi cairan dan berkembang menjadi kista odontogenik. Kista ini bersifat destruktif; ia dapat menghancurkan tulang rahang di sekitarnya dan mematikan saraf.
  4. Gangguan Sendi Rahang: Posisi gigi yang miring dapat mengubah cara Anda menggigit (maloklusi), yang pada jangka panjang memicu gangguan sendi rahang dan sakit kepala kronis.

 

Gejala-Gejala "Red Flag" yang Harus Diwaspadai

Jika Anda mengalami gejala berikut, segera jadwalkan pertemuan dengan unit Bedah Mulut di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah:

  • Nyeri Berdenyut: Rasa sakit di area belakang mulut yang menyebar ke kepala atau leher.
  • Trismus: Kesulitan membuka mulut lebar-lebar karena otot rahang terasa kaku.
  • Halitosis (Bau Mulut): Bau mulut yang menetap meskipun sudah menyikat gigi, akibat pembusukan di area impaksi.
  • Pembengkakan Gusi: Gusi tampak merah tua, mengkilap, dan sangat sensitif saat tersentuh lidah atau makanan.
  • Rasa Tidak Enak di Mulut: Adanya cairan asin atau pahit yang merembes dari gusi belakang (indikasi adanya nanah).

 

Prosedur Odontektomi: Solusi Modern dan Aman

Penanganan definitif untuk gigi impaksi bukanlah sekadar obat pereda nyeri, melainkan Odontektomi (bedah pengangkatan gigi bungsu). Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, prosedur ini dilakukan dengan langkah-langkah medis yang ketat:

  1. Diagnostik Radiologi: Menggunakan rontgen Panoramic atau CBCT untuk memetakan posisi akar terhadap saraf Alveolaris Inferior agar terhindar dari risiko mati rasa permanen (parestesia).
  2. Anestesi yang Nyaman: Pasien diberikan bius lokal atau sedasi tergantung tingkat kesulitan dan kecemasan pasien.
  3. Teknik Bedah Presisi: Dokter bedah mulut akan membelah gigi menjadi beberapa bagian kecil guna meminimalkan trauma pada tulang rahang dan mempercepat proses penyembuhan.
  4. Penjahitan Steril: Area operasi dijahit dengan benang yang dapat menyatu dengan jaringan atau dilepas setelah satu minggu.

 

Panduan Pemulihan Pasca-Odontektomi

Pemulihan yang sukses bergantung pada kedisiplinan pasien dalam mengikuti instruksi dokter:

  • 24 Jam Pertama: Jangan berkumur terlalu keras dan jangan menggunakan sedotan agar bekuan darah (blood clot) tidak lepas. Bekuan darah sangat penting untuk mencegah Dry Socket.
  • Kompres Dingin: Tempelkan es batu di pipi luar untuk mengurangi pembengkakan selama 12 jam pertama.
  • Diet Makanan Lunak: Konsumsi bubur, yoghurt, atau sup hangat (bukan panas) selama beberapa hari.
  • Kepatuhan Obat: Habiskan antibiotik yang diresepkan untuk mencegah infeksi sekunder.

 

Kesimpulan

Penyakit impaksi gigi bungsu merupakan kondisi yang perlu ditangani dengan tepat agar tidak menimbulkan gangguan berkepanjangan maupun komplikasi infeksi yang lebih luas ke jaringan saraf dan tulang rahang. Jangan menunggu hingga muncul pembengkakan hebat; deteksi dini melalui rontgen gigi secara rutin adalah langkah terbaik untuk mencegah prosedur bedah yang lebih sulit di masa depan.

Apabila Anda merasakan nyeri di geraham belakang, sering mengalami gusi berdarah di area tersebut, atau merasa susunan gigi depan mulai berantakan, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis yang tepat.

“Atasi Masalah Gigi Bungsu Anda dengan Tepat, Lindungi Senyum Sehat Anda Selamanya.”

 

Referensi (APA Style)

Alodokter. (2025, 23 Desember). Impaksi gigi - Gejala, penyebab, dan pengobatan. Diakses dari https://www.alodokter.com/impaksi-gigi

Rumah Sakit Universitas Indonesia. Impaksi gigi bungsu: Penyebab, gejala, dan penanganannya. Diakses dari https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/impaksi-gigi-bungsu-penyebab-gejala-dan-penanganannya

Halodoc. (2025, 22 September). Impaksi gigi bungsu, ini gejala dan cara mengatasinya. Diakses dari https://www.halodoc.com/artikel/impaksi-gigi-bungsu-ini-gejala-dan-cara-mengatasinya

-Adelweis NF-

RS Syarif Hidayatullah – Di tengah derasnya arus informasi medis modern, berbagai mitos kesehatan yang telah mengakar kuat di masyarakat Indonesia sering kali masih menjadi rujukan utama bagi para orang tua. Salah satu fenomena yang paling sering ditemui dalam praktik sehari-hari di klinik spesialis mata adalah kekhawatiran orang tua saat melihat buah hati mereka sering mengedipkan mata secara berlebihan. Anggapan yang paling umum beredar adalah bahwa hal tersebut merupakan tanda anak sedang mengalami cacingan.

Mitos ini begitu kuat sehingga banyak orang tua yang langsung memberikan obat cacing secara mandiri tanpa melakukan konsultasi medis terlebih dahulu. Padahal, memberikan pengobatan yang tidak sesuai dengan diagnosis dapat menunda penanganan masalah kesehatan mata yang sebenarnya sedang dialami oleh anak. Rumah Sakit Syarif Hidayatullah berkomitmen untuk meluruskan kesalahpahaman ini melalui penjelasan ilmiah yang menyeluruh agar kualitas kesehatan mata anak tetap terjaga optimal.

Boy crying madlyIlustrasi anak menagis mengucek mata (Foto: freepik)

Menepis Mitos: Mengapa Kedipan Mata Bukan Tanda Cacingan?

Secara klinis, mata sering berkedip tanda cacingan adalah MITOS. Tidak ada korelasi patofisiologis (mekanisme penyakit) yang menghubungkan keberadaan parasit di usus dengan peningkatan frekuensi kedipan mata. Infeksi cacing seperti cacing gelang, cacing tambang, atau cacing kremi memang mempengaruhi status nutrisi dan sistem pencernaan anak, namun tidak memicu gerakan motorik pada otot kelopak mata.

Mitos ini kemungkinan besar lahir dari pengamatan tradisional terhadap anak yang terlihat lesu dan sering mengucek mata akibat kelelahan atau anemia (akibat cacingan). Namun, mengaitkan kedipan secara langsung sebagai gejala utama cacingan adalah sebuah kekeliruan medis yang harus segera diluruskan.

 

Mengenal Mekanisme Berkedip pada Manusia

Secara fisiologis, berkedip adalah mekanisme proteksi alami tubuh. Dalam kondisi normal, manusia berkedip sekitar 15 hingga 20 kali per menit. Fungsi utamanya adalah:

  1. Lubrikasi: Menyebarkan air mata ke seluruh permukaan kornea agar tetap lembap.
  2. Proteksi: Melindungi mata dari paparan benda asing, debu, dan cahaya yang terlalu menyilaukan.
  3. Pembersihan: Membantu membuang partikel mikro yang menempel di selaput mata.

Jika frekuensi kedipan ini meningkat secara tidak wajar (excessive blinking), hal tersebut menandakan adanya rangsangan berlebih atau gangguan pada permukaan mata, bukan gangguan sistemik dari perut.

 

Penyebab Medis Mata Sering Berkedip (Excessive Blinking)

Daripada mencurigai cacingan, para orang tua sebaiknya mewaspadai beberapa penyebab medis yang memang terbukti secara ilmiah memicu mata berkedip berlebihan:

1. Gangguan Refraksi yang Tidak Terkoreksi

Penyebab paling dominan pada anak usia sekolah adalah mata minus (miopi), plus (hipermetropi), atau silinder (astigmatisme). Saat penglihatan kabur, otak memerintahkan kelopak mata untuk berkedip lebih sering sebagai upaya untuk "memfokuskan" kembali bayangan objek. Jika anak sering menyipitkan mata sambil berkedip, ini adalah tanda kuat perlunya pemeriksaan kacamata.

2. Sindrom Mata Kering (Dry Eye Syndrome)

Penggunaan gawai (gadget) atau menatap layar televisi terlalu lama secara signifikan menurunkan frekuensi kedip normal. Hal ini menyebabkan penguapan air mata menjadi lebih cepat. Akibatnya, setelah aktivitas menatap layar selesai, mata akan berkedip secara kompensatoris dengan intensitas tinggi untuk memulihkan kelembapan kornea yang kering.

3. Konjungtivitis Alergi

Area Tangerang Selatan yang memiliki tingkat polusi dan debu cukup tinggi sering memicu alergi mata. Alergi terhadap debu, serbuk sari, atau bulu hewan menyebabkan mata terasa gatal dan mengganjal. Anak akan merespons rasa gatal tersebut dengan berkedip berulang kali atau mengucek mata.

4. Tic Disorder (Gangguan Saraf dan Psikologis)

Eye tic adalah gerakan kedutan atau kedipan yang tidak disengaja dan berulang. Kondisi ini sering kali bersifat idiopatik (tidak diketahui penyebab pastinya), namun sangat dipengaruhi oleh faktor stres, kecemasan, kurang tidur, atau kelelahan ekstrem pada anak.

5. Blefaritis dan Infeksi Kelopak Mata

Peradangan pada tepi kelopak mata yang disebabkan oleh tersumbatnya kelenjar minyak atau infeksi bakteri (seperti awal terjadinya bintitan/hordeolum) dapat memicu refleks kedipan yang konstan akibat rasa tidak nyaman pada permukaan mata.

 

Mengenali Gejala Cacingan yang Sebenarnya

Agar tidak salah langkah, penting bagi Bunda untuk mengetahui gejala klinis cacingan yang nyata berdasarkan pedoman medis:

  • Anemia dan Pucat: Anak terlihat lemas karena nutrisi diserap oleh parasit.
  • Gangguan Pencernaan: Perut buncit, nyeri perut yang tidak jelas lokasinya, serta mual.
  • Gatal pada Area Anus: Terutama di malam hari (khas infeksi cacing kremi).
  • Feses Tidak Normal: Terkadang ditemukan cacing atau telur cacing pada pemeriksaan feses di laboratorium.

 

Penanganan di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah

Jika buah hati Anda mengalami keluhan mata berkedip berlebihan, langkah pertama bukanlah mencari obat cacing, melainkan melakukan pemeriksaan mata menyeluruh. Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, kami menyediakan layanan diagnosa yang meliputi:

  • Pemeriksaan Tajam Penglihatan (Refraksi): Untuk menentukan apakah diperlukan bantuan kacamata.
  • Pemeriksaan Slit Lamp: Mengecek kondisi kornea dan kelopak mata dari adanya infeksi atau alergi.
  • Edukasi Higienitas: Memberikan panduan penggunaan gadget (Aturan 20-20-20) untuk mencegah mata kering.

 

Kesimpulan

Mitos mengenai mata sering berkedip sebagai tanda cacingan merupakan disinformasi kesehatan yang perlu diluruskan secara bijak. Fakta medis menunjukkan bahwa peningkatan frekuensi kedipan lebih sering berkaitan dengan kondisi kesehatan mata secara lokal, seperti gangguan tajam penglihatan, kelelahan akibat layar digital, atau reaksi alergi. Pemberian obat cacing harus didasarkan pada indikasi medis yang tepat melalui pemeriksaan feses, bukan berdasarkan gerakan mata anak.

Apabila keluhan mata sering berkedip pada buah hati Anda disertai dengan mata merah, sering mengucek mata, atau penurunan prestasi belajar karena sulit melihat tulisan, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis mata di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang akurat.

“Cerdas Menyikapi Mitos, Lindungi Penglihatan Anak dengan Fakta Medis.”

Referensi :
Kompas Health. (2025, 17 September). Mata sering berkedip tanda cacingan, mitos atau fakta? Ini kata dokter. Diakses dari https://health.kompas.com/read/25I17213209868/mata-sering-berkedip-tanda-cacingan-mitos-atau-fakta-ini-kata-dokter
CNN Indonesia. (2025, 18 September). Mitos mata sering berkedip tanda cacingan, begini faktanya. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20250918071230-255-1274920/mitos-mata-sering-berkedip-tanda-cacingan-begini-faktanya
Joglo News. (2025, 20 September). Mitos vs fakta: Mata kedip-kedip bukan karena cacingan. Diakses dari https://joglonews.com/2025/09/20/mitos-vs-fakta-mata-kedip-kedip-bukan-karena-cacingan/
 
-AdelweisNF-

RS Syarif Hidayatullah – Pernahkah Anda bangun di pagi hari dan merasakan kelopak mata yang terasa berat, nyeri saat berkedip, hingga munculnya benjolan kemerahan yang menyerupai jerawat? Dalam istilah kedokteran, kondisi ini dikenal sebagai Hordeolum, namun masyarakat kita jauh lebih akrab dengan sebutan bintitan. Meskipun sering dianggap sebagai masalah kesehatan ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya, bintitan yang tidak mendapatkan penanganan yang higienis dapat memicu komplikasi infeksi yang jauh lebih luas pada jaringan wajah.

Sering kali, munculnya bintitan dikaitkan dengan mitos atau perilaku "mengintip" yang berkembang di masyarakat. Secara medis, anggapan ini adalah keliru. Bintitan adalah infeksi bakteri murni yang berkaitan erat dengan kesehatan kulit dan kebersihan area sekitar mata. Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, kami menekankan pentingnya edukasi bahwa mata adalah organ yang sangat sensitif, sehingga infeksi sekecil apa pun pada kelopak mata harus ditangani dengan prosedur yang steril.

bintitanVisualisasi hordeolum atau bintitan (Foto: Dok. RSUD Soeselo)

Apa Itu Hordeolum (Bintitan) secara Medis?

Secara klinis, Hordeolum adalah peradangan supuratif (menghasilkan nanah) akut yang terjadi pada kelenjar di dalam kelopak mata. Kelopak mata manusia memiliki berbagai kelenjar minyak yang berfungsi menjaga kelembapan mata. Ketika saluran kelenjar ini tersumbat oleh sel kulit mati atau kotoran, bakteri dapat berkembang biak di dalamnya dan menyebabkan infeksi.

Dokter spesialis mata mengklasifikasikan hordeolum menjadi dua jenis utama berdasarkan lokasi kelenjar yang terkena:

  1. Hordeolum Eksternal: Infeksi terjadi pada kelenjar Zeis atau Moll yang terletak di tepi luar kelopak mata, tepat di pangkal bulu mata. Benjolan ini biasanya mengarah ke luar dan lebih mudah pecah atau mengeluarkan nanah secara alami.
  2. Hordeolum Internal: Infeksi terjadi pada kelenjar Meibom yang terletak lebih dalam di dalam lempeng kelopak mata (tarsus). Benjolan ini mengarah ke arah bola mata (konjungtiva). Karena letaknya yang di dalam, rasa nyerinya biasanya lebih hebat dan pembengkakannya bisa lebih luas dibandingkan jenis eksternal.

 

Penyebab Utama dan Mekanisme Terjadinya Infeksi

Penyebab nomor satu dari hordeolum adalah bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri ini sebenarnya adalah penghuni normal di permukaan kulit manusia. Namun, infeksi akan terjadi apabila bakteri ini masuk ke dalam folikel rambut bulu mata atau kelenjar minyak yang tersumbat.

Beberapa faktor risiko yang secara signifikan meningkatkan kemungkinan seseorang terkena bintitan meliputi:

  • Kebiasaan Menyentuh Mata: Tangan manusia adalah sarang kuman. Mengucek mata tanpa mencuci tangan adalah cara tercepat memindahkan bakteri ke kelopak mata.
  • Kurangnya Higienitas Kosmetik: Penggunaan maskara atau eyeliner yang sudah kedaluwarsa atau berbagi alat rias dengan orang lain dapat memicu kolonisasi bakteri yang masif.
  • Penggunaan Lensa Kontak: Memasang lensa kontak dengan tangan yang tidak steril atau tidak membersihkan wadah lensa kontak secara rutin.
  • Blefaritis Kronis: Peradangan pada tepi kelopak mata yang menyebabkan produksi minyak berlebih dan penyumbatan saluran kelenjar secara terus-menerus.
  • Kondisi Medis Tertentu: Penderita diabetes melitus dan penyakit kulit seperti rosacea cenderung memiliki sistem pertahanan kulit yang lebih lemah, sehingga lebih rentan mengalami bintitan berulang.

 

Gejala-Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan

Bintitan biasanya dimulai dengan rasa ganjal atau tidak nyaman pada kelopak mata. Berikut adalah perkembangan gejala yang perlu Anda perhatikan:

  • Munculnya benjolan kemerahan yang sangat nyeri jika disentuh.
  • Pembengkakan pada seluruh kelopak mata (terkadang hingga mata sulit dibuka).
  • Mata terasa berair dan sangat sensitif terhadap cahaya matahari.
  • Rasa gatal yang diikuti dengan rasa panas atau berdenyut pada area benjolan.
  • Munculnya titik putih atau kuning di puncak benjolan yang menandakan adanya kumpulan nanah.

 

Membedakan Hordeolum dengan Kalazion

Penting bagi Bunda dan Ayah untuk bisa membedakan bintitan (hordeolum) dengan Kalazion. Meskipun keduanya tampak sebagai benjolan di mata, sifatnya sangat berbeda:

  • Hordeolum: Disebabkan oleh infeksi bakteri, onsetnya cepat, dan terasa sangat nyeri.
  • Kalazion: Disebabkan oleh penyumbatan kelenjar minyak kronis tanpa infeksi akut. Benjolannya biasanya tidak merah, tidak terasa nyeri (hanya terasa mengganjal), dan bisa bertahan berbulan-bulan jika tidak dilakukan tindakan.

 

Mengapa Dilarang Keras Memencet Bintitan Sendiri?

Salah satu kesalahan paling fatal yang sering dilakukan pasien adalah mencoba memencet atau menusuk bintitan dengan jarum di rumah. Tindakan ini sangat berbahaya karena:

  1. Penyebaran Infeksi: Memencet benjolan dapat mendorong bakteri masuk lebih dalam ke jaringan lunak wajah, menyebabkan Selulitis Preseptal, yaitu infeksi luas pada jaringan di sekitar mata yang memerlukan rawat inap dan antibiotik dosis tinggi.
  2. Kerusakan Jaringan: Dapat meninggalkan jaringan parut permanen yang merusak bentuk kelopak mata atau pertumbuhan bulu mata.
  3. Trombosis Sinus Kavernosus: Meskipun jarang, infeksi dari area mata dapat menjalar melalui pembuluh darah menuju otak, yang merupakan kondisi mengancam nyawa.

 

Penanganan Medis dan Prosedur di Rumah Sakit

Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, tim dokter kami mengutamakan penanganan yang aman dan efektif. Langkah penanganan biasanya meliputi:

  • Pemberian Antibiotik: Dalam bentuk salep mata atau obat tetes mata untuk mematikan bakteri penyebab infeksi.
  • Kompres Hangat Steril: Dilakukan 3-4 kali sehari untuk membantu melancarkan drainase minyak dan mempercepat pematangan nanah.
  • Prosedur Insisi dan Drainase: Jika bintitan tidak kunjung pecah atau ukurannya sangat besar, dokter spesialis mata akan melakukan pembedahan kecil (insisi) menggunakan alat steril untuk mengeluarkan nanah dan memberikan bantuan instan terhadap rasa nyeri.

 

Kesimpulan

Penyakit hordeolum atau bintitan merupakan kondisi yang perlu ditangani dengan tepat agar tidak menimbulkan gangguan berkepanjangan maupun komplikasi serius seperti selulitis wajah. Penerapan pola hidup bersih, selalu mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah, serta menjaga kebersihan alat kosmetik dan lensa kontak merupakan langkah preventif terbaik untuk mengendalikan gejala dan mencegah kekambuhan.

Apabila keluhan bintitan Anda disertai dengan nyeri hebat, gangguan penglihatan, atau bengkak yang semakin meluas ke area pipi, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis mata di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis yang tepat dan aman.

“Mata Sehat, Aktivitas Lancar: Jaga Higienitas Mata Sejak Dini.”

Referensi :
Alodokter. (2024, 1 November). Bintitan - Gejala, penyebab, dan pengobatan. Diakses dari https://www.alodokter.com/bintitan
Halodoc. Bintitan. Diakses dari https://www.halodoc.com/kesehatan/bintitan
JEC Eye Hospitals & Clinics. (2025, 15 Desember). Mata bintitan: Gejala, penyebab, dan cara mengobati. Diakses dari https://jec.co.id/id/article/mata-bintitan

-AdelweisNF-

RS Syarif Hidayatullah – Mata sering disebut sebagai jendela dunia, namun bagi jutaan orang di Indonesia, jendela tersebut perlahan-lahan tertutup oleh kabut putih yang dikenal sebagai katarak. Sebagai penyebab utama kebutaan di seluruh dunia, katarak sering kali dianggap sebagai bagian tak terelakkan dari proses penuaan. Namun, kurangnya kesadaran akan gejala awal sering kali membuat penderita terlambat mendapatkan penanganan medis, sehingga kualitas hidup menurun drastis.

Katarak bukan sekadar masalah penglihatan buram. Kondisi ini dapat membatasi mobilitas, meningkatkan risiko jatuh pada lansia, hingga menyebabkan isolasi sosial. Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, kami memahami bahwa deteksi dini dan edukasi yang tepat adalah kunci untuk mencegah kebutaan permanen akibat katarak.

WhatsApp Image 2022 10 03 at 6.29.41 PM1Ilustrasi perbandingan penglihatan nmata normal dengan mata yang terkena katarak (Foto: Dok. smartbintaro)

Apa Itu Katarak secara Medis?

Secara medis, katarak adalah kondisi di mana lensa mata yang secara alami jernih menjadi keruh atau berkabut. Lensa mata terletak di belakang pupil dan berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke retina guna menghasilkan gambar yang tajam. Seiring bertambahnya usia, protein di dalam lensa dapat menggumpal dan membentuk kekeruhan.

Kekeruhan ini menghalangi cahaya masuk ke retina, sehingga gambar yang diterima otak menjadi kabur, pudar, atau terdistorsi. Penting untuk dipahami bahwa katarak tidak tumbuh di atas mata, melainkan terjadi di dalam lensa mata itu sendiri. Kondisi ini biasanya berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan sering kali menyerang kedua mata, meski tingkat keparahannya bisa berbeda.

 

Mengapa Katarak Sering Tidak Disadari?

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan katarak adalah sifatnya yang "diam". Pada tahap awal, kekeruhan mungkin hanya mempengaruhi sebagian kecil lensa, sehingga penderita tidak merasakan perubahan yang signifikan. Banyak orang mengira bahwa penglihatan yang memudar adalah hal yang wajar seiring bertambahnya usia.

Namun, ketika katarak semakin tebal, gejala akan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari seperti menyetir di malam hari, membaca tulisan kecil, atau mengenali wajah orang dari kejauhan. Jika dibiarkan tanpa penanganan, katarak dapat mencapai tahap "matur" atau matang sempurna, di mana lensa menjadi benar-benar putih dan menyebabkan kebutaan total.

 

Gejala Katarak yang Harus Diwaspadai

Mengenali gejala katarak sejak dini dapat membantu Bunda dan Ayah mendapatkan penanganan sebelum komplikasi terjadi. Berikut adalah tanda-tanda yang perlu diperhatikan:

  1. Penglihatan Berkabut atau Buram: Pandangan terasa seperti tertutup tirai tipis atau seperti melihat melalui kaca yang beruap.
  2. Sensitivitas terhadap Cahaya: Mata terasa sangat silau saat melihat lampu kendaraan atau sinar matahari yang terik.
  3. Munculnya "Halo" pada Lampu: Melihat lingkaran cahaya di sekitar sumber lampu, terutama saat malam hari.
  4. Penglihatan Ganda: Objek tampak menjadi dua saat dilihat dengan satu mata (diplopia monokular).
  5. Perubahan Warna: Warna-warna cerah tampak memudar, menguning, atau kecoklatan.
  6. Sering Berganti Ukuran Kacamata: Jika resep kacamata atau lensa kontak berubah terlalu sering dalam waktu singkat, ini bisa menjadi tanda perubahan pada lensa akibat katarak.
  7. Pandangan Malam Menurun: Kesulitan melihat dengan jelas di ruangan yang redup atau saat gelap.

 

Penyebab dan Faktor Risiko

Penuaan memang merupakan faktor risiko utama (katarak senilis), namun ada berbagai faktor lain yang dapat mempercepat munculnya katarak, antara lain:

  • Paparan Sinar UV: Paparan sinar matahari berlebih tanpa pelindung mata (kacamata hitam).
  • Penyakit Sistemik: Penderita diabetes melitus memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami katarak di usia yang lebih muda.
  • Obat-obatan: Penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang.
  • Trauma Mata: Cedera atau benturan keras pada mata di masa lalu.
  • Gaya Hidup: Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebih.
  • Katarak Kongenital: Bayi yang lahir dengan katarak akibat infeksi selama kehamilan (seperti rubella).

 

Langkah Diagnosis dan Penanganan Medis

Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, tim dokter spesialis mata akan melakukan pemeriksaan komprehensif menggunakan alat mutakhir seperti Slit-lamp examination untuk melihat struktur lensa secara detail dan Retinoskopi untuk mengukur tajam penglihatan.

Hingga saat ini, tidak ada obat tetes atau kacamata yang bisa menghilangkan katarak. Satu-satunya cara untuk mengatasi katarak adalah melalui prosedur pembedahan. Kabar baiknya, operasi katarak kini jauh lebih modern, cepat, dan aman. Teknik Fakoemulsifikasi yang digunakan di rumah sakit kami memungkinkan penghancuran lensa yang keruh dengan gelombang ultrasonik melalui sayatan yang sangat kecil tanpa perlu jahitan, diikuti dengan penanaman lensa intraokular (IOL) permanen.

 

Kesimpulan

Penyakit katarak merupakan kondisi yang perlu ditangani dengan tepat agar tidak menimbulkan gangguan berkepanjangan maupun komplikasi kebutaan permanen. Penerapan pola hidup sehat, perlindungan mata dari sinar matahari, serta pemeriksaan rutin ke dokter mata dapat membantu mendeteksi katarak sejak dini sehingga penanganan dapat segera dilakukan.

Apabila penglihatan Anda mulai kabur, sering merasa silau, atau mengalami penurunan kualitas pandangan yang mengganggu aktivitas, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis mata di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

“Kembalikan Jernihnya Pandangan, Jaga Kesehatan Mata Sejak Dini.”

Referensi :
Alodokter. (2024, 30 September). Katarak pada manula - Gejala, penyebab, dan pengobatan. Diakses dari https://www.alodokter.com/katarak-pada-manula
Halodoc. Katarak. Diakses dari https://www.halodoc.com/kesehatan/katarak
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 10 Oktober). Katarak: Penyakit mata yang sering tidak disadari hingga terlambat. Diakses dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3721/katarak-penyakit-mata-yang-sering-tidak-disadari-hingga-terlambat
 
-AdelweisNF-
 

RS Syarif Hidayatullah - Kelahiran bayi prematur merupakan kondisi ketika bayi lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Masalah kesehatan ini masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan kesehatan pada bayi baru lahir. Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan, berat badan lahir rendah, hingga masalah tumbuh kembang. Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil dan keluarga untuk memahami apa itu kelahiran prematur, faktor penyebabnya, serta cara mencegah kelahiran bayi prematur sejak dini melalui pemeriksaan kehamilan rutin dan pola hidup sehat selama masa kehamilan.

prematur 01Ilustrasi bayi prematur didalam inkubator (Foto: Dok.citasehat)

Pengertian Kelahiran Prematur

Kelahiran prematur merupakan kelahiran yang terjadi sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL) bayi. Artinya, kelahiran prematur adalah kelahiran yang terjadi sebelum awal minggu ke-37 usia kehamilan. Bayi yang terlahir prematur, terutama yang lahir sangat dini, seringkali memiliki masalah medis atau komplikasi. Semakin dini bayi lahir, semakin tinggi pula risiko komplikasinya. Beberapa tingkatkan seberapa dini bayi lahir prematur yaitu:

  • Late preterm, bayi lahir antara 34 hingga 36 minggu kehamilan lengkap.
  • Moderately preterm, bayi lahir antara 32 hingga 34 minggu kehamilan.
  • Very preterm, bayi lahir kurang dari 32 minggu kehamilan.
  • Extremely preterm, bayi lahir pada atau sebelum 24 minggu kehamilan.

 

Penyebab Kelahiran Prematur

Penyebab kelahiran prematur sering kali tidak diketahui. Namun, ketuban pecah dini merupakan salah satu penyebab utama kelahiran prematur. Ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kelahiran prematur, yaitu:

1. Faktor kesehatan ibu, di antaranya:

  • Preeklamsia
  • Gangguan pembekuan darah
  • Penyakit kronis, seperti penyakit ginjal, penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi
  • Penyakit infeksi, seperti infeksi saluran kemih, infeksi cairan ketuban, dan infeksi vagina
  • Kelainan pada bentuk rahim atau leher rahim
  • Pembukaan serviks yang terjadi lebih dini
  • Stres
  • Pernah mengalami keguguran
  • Kelebihan atau kekurangan berat badan sebelum hamil
  • Kekurangan nutrisi
  • Kebiasaan merokok sebelum dan selama masa kehamilan
  • Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol saat hamil
  • Penyalahgunaan NAPZA
  • Cedera fisik, misalnya cedera akibat persalinan sebelumnya
  • Pernah menjalani operasi pada serviks
  • Pernah mengalami kelahiran prematur sebelumnya
  • Riwayat kelahiran prematur di dalam keluarga

 

2. Faktor kehamilan, seperti:

  • Kelainan posisi atau gangguan fungsi plasenta
  • Plasenta yang lepas sebelum waktunya
  • Cairan ketuban yang terlalu banyak
  • Perdarahan vagina selama masa kehamilan
  • Hamil dengan bantuan prosedur bayi tabung
  • Hamil di usia remaja atau di atas 40 tahun
  • Tidak melakukan pemeriksaan kehamilan dengan baik
  • Jarak kehamilan yang terlalu dekat dari kehamilan sebelumnya

 

3. Faktor yang melibatkan janin, yaitu:

  • Kehamilan kembar
  • Janin menderita cacat lahir
  • Gangguan perkembangan janin
  • IUGR atau intrauterine growth restriction

 

Pencegahan Kelahiran Prematur

Meskipun penyebab pasti kelahiran prematur belum diketahui, ada beberapa cara yang dapat diupayakan untuk mencegah kelahiran prematur. Terutama bagi wanita yang memiliki risiko. 

  • Jalani pola makan dan hidup sehat sebelum dan selama kehamilan. Pastikan untuk mengonsumsi banyak biji-bijian, protein tanpa lemak, sayuran, dan buah-buahan.
  • Minum banyak air setiap hari. Jumlah yang disarankan adalah delapan gelas per hari, tapi minumlah lebih banyak jika berolahraga.
  • Konsumsi aspirin setiap hari sejak trimester pertama. Jika kamu memiliki tekanan darah tinggi atau riwayat kelahiran prematur. Dokter mungkin merekomendasikan untuk mengonsumsi 60 hingga 80 miligram aspirin setiap hari.
  • Berhenti merokok, menggunakan obat-obatan terlarang atau menggunakan obat resep tertentu secara berlebihan. Gaya hidup ini jika dijalani selama kehamilan dapat meningkatkan risiko cacat lahir tertentu, serta keguguran. 
  • Konsumsi suplemen progesteron. Khususnya untuk wanita yang memiliki riwayat kelahiran prematur atau memiliki ukuran serviks yang pendek.

 

Kapan Harus Ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala persalinan prematur, seperti kontraksi teratur, nyeri punggung, atau keluarnya cairan dari vagina, segera hubungi dokter. Deteksi dini dan penanganan cepat dapat membantu mencegah kelahiran prematur atau meminimalkan risikonya. Kelahiran prematur adalah kondisi serius yang memerlukan perhatian khusus. Dengan memahami penyebab, risiko, dan langkah pencegahan, Anda dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kelahiran prematur.

Jika Anda memiliki risiko kelahiran prematur atau memerlukan konsultasi tentang kehamilan, tim dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn) di RS Syarif Hidayatullah siap memberikan pelayanan terbaik. Dengan fasilitas NICU dan tenaga medis berpengalaman, RS Syarif Hidayatullah menyediakan perawatan komprehensif untuk ibu hamil dan bayi prematur.

“Kandungan Sehat Hari Ini, Bayi Kuat Hingga Waktu Nanti.”

Referensi: 
Halodoc. (2026, 04 Februari). Kelahiran Prematur. Diakses dari  https://www.halodoc.com/kesehatan/kelahiran-prematur?srsltid=AfmBOorfhfro2xU5doXqsYxWwg7QvXa4aWiGefeW8lLgfIevQ1-ALFrn
Alodokter. (2026, 04 Februari). Kelahiran Prematur. Diakses dari
https://www.alodokter.com/kelahiran-prematur
Ekahospital. (2026, 04 Februari). Kelahiran Prematur: Penyebab, Risiko dan Penanganan. Diakses dari
https://www.ekahospital.com/better-healths/kelahiran-prematur-penyebab-risiko-dan-penanganan

RS Syarif Hidayatullah – Di tengah masyarakat Indonesia, istilah "hamil anggur" sering kali diselimuti oleh berbagai mitos dan cerita mistis. Sebagian orang mengaitkannya dengan hal-hal di luar nalar atau gangguan klenik karena bentuknya yang menyerupai butiran buah. Padahal, dalam dunia kedokteran, hamil anggur atau mola hidatidosa adalah kondisi medis murni yang berkaitan dengan kegagalan pembentukan janin akibat kelainan genetik saat pembuahan.

Memahami kehamilan anggur dari perspektif medis sangat penting bagi para calon Bunda agar tidak terjebak dalam rasa takut yang tidak perlu atau penanganan yang salah. Deteksi dini melalui pemeriksaan medis menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

hamil anggurIlustrasi medis pada kasus hamil anggur (mola hidatidosa). (Foto: Dok. Tzu Chi Hospital)

Apa Itu Hamil Anggur (Mola Hidatidosa)?

Secara medis, hamil anggur adalah komplikasi kehamilan yang langka di mana sel telur yang telah dibuahi berkembang secara tidak normal. Bukannya tumbuh menjadi janin dan plasenta yang sehat, sel-sel tersebut justru membentuk sekumpulan kista (kantong berisi cairan) yang menyerupai gerombolan buah anggur di dalam rahim.

Kondisi ini terjadi karena adanya kesalahan genetik pada saat proses pembuahan. Karena sel-sel ini tumbuh secara abnormal, kehamilan tersebut tidak dapat dipertahankan dan tidak akan berkembang menjadi bayi yang sehat.

 

Jenis-Jenis Hamil Anggur

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan membagi hamil anggur menjadi dua jenis utama berdasarkan proses pembentukannya:

  1. Hamil Anggur Lengkap (Complete Hydatidiform Mole): Pada kondisi ini, jaringan janin sama sekali tidak terbentuk. Hal ini terjadi ketika sel telur yang "kosong" (tidak mengandung materi genetik ibu) dibuahi oleh sperma. Akibatnya, semua jaringan yang tumbuh di dalam rahim adalah jaringan plasenta yang abnormal.
  2. Hamil Anggur Sebagian (Partial Hydatidiform Mole): Pada jenis ini, jaringan janin mungkin mulai terbentuk namun tidak sempurna dan tidak akan bisa bertahan hidup. Hal ini biasanya terjadi ketika satu sel telur yang normal dibuahi oleh dua sperma sekaligus, sehingga terjadi kelebihan materi genetik (kromosom).

 

Menepis Mitos: Mengapa Hamil Anggur Bisa Terjadi?

Penting untuk ditegaskan bahwa hamil anggur bukan disebabkan oleh makanan, perilaku ibu, apalagi gangguan mistis. Berikut adalah faktor risiko medis yang diakui secara ilmiah:

  • Usia Ibu: Risiko meningkat secara signifikan pada wanita yang hamil di usia ekstrem, yaitu di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun.
  • Riwayat Sebelumnya: Bunda yang pernah mengalami hamil anggur memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya kembali pada kehamilan berikutnya.
  • Faktor Gizi: Beberapa penelitian menunjukkan adanya kaitan antara kekurangan vitamin A atau beta-karoten dengan risiko mola hidatidosa.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Pada awalnya, hamil anggur mungkin terasa seperti kehamilan normal. Namun, seiring waktu, akan muncul gejala-gejala yang lebih berat, antara lain:

  • Pendarahan Vagina: Biasanya terjadi pada trimester pertama, berwarna merah terang hingga coklat tua.
  • Mual dan Muntah yang Parah: Jauh lebih hebat daripada morning sickness biasa akibat kadar hormon hCG yang melonjak drastis.
  • Ukuran Perut Tidak Wajar: Rahim tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan usia kehamilan yang seharusnya (misalnya usia 2 bulan tapi perut tampak seperti 4 bulan).
  • Keluarnya Jaringan Seperti Anggur: Dalam beberapa kasus, kista-kista kecil berbentuk butiran keluar dari vagina.
  • Tekanan Darah Tinggi: Munculnya tanda-tanda preeklamsia pada awal kehamilan.

 

Prosedur Penanganan Medis

Hamil anggur harus segera ditangani untuk menghindari risiko pendarahan hebat atau perubahan jaringan menjadi ganas (kanker). Langkah-langkah yang dilakukan biasanya meliputi:

  1. Kuretase (Suction Curettage): Prosedur untuk mengeluarkan seluruh jaringan abnormal dari dalam rahim.
  2. Pemantauan Kadar hCG: Setelah kuret, pasien harus melakukan tes darah secara berkala (biasanya selama 6-12 bulan) untuk memastikan kadar hormon hCG kembali ke nol. Jika kadar tetap tinggi, hal itu menandakan masih ada jaringan abnormal yang tersisa.
  3. Penundaan Kehamilan: Pasien disarankan untuk tidak hamil terlebih dahulu selama masa pemantauan agar dokter bisa membedakan antara kenaikan hCG akibat kehamilan baru atau akibat sisa jaringan mola.

 

Kesimpulan

Kehamilan anggur atau mola hidatidosa merupakan kondisi medis yang memerlukan penanganan secara cepat dan tepat guna mencegah resiko pendarahan maupun komplikasi jangka panjang yang berbahaya. Pemahaman yang benar dari sisi medis sangat diperlukan agar Bunda tidak terjebak dalam mitos yang menyesatkan. Penerapan pola hidup sehat serta pemeriksaan kehamilan sejak dini sangat membantu dalam mendeteksi adanya kelainan secara cepat.

Apabila muncul gejala seperti pendarahan yang tidak wajar atau mual yang sangat berat di awal kehamilan, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Sp.OG) di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan pemeriksaan USG dan penanganan yang tepat sesuai standar medis.

“Jangan Terpaku Mitos, Jaga Kesehatan Kehamilan dengan Konsultasi Medis Sejak Dini.”

 

Referensi:

Bunda Pintar. Jangan percaya mitos! Ini yang perlu bunda ketahui soal hamil anggur. Diakses dari https://www.bundapintar.id/artikel/jangan-percaya-mitos-ini-yang-perlu-bunda-ketahui-soal-hamil-anggur

Espos News. (2022, 25 Januari). Mitos hamil anggur bagi perempuan Banjar yang melanggar pamali. Diakses dari https://news.espos.id/mitos-hamil-anggur-bagi-perempuan-banjar-yang-melanggar-pamali-1239654

Nakita Grid. (2024, 9 Januari). Apa itu hamil anggur? Mitos dan fakta yang perlu diketahui oleh bumil. Diakses dari https://nakita.grid.id/read/023988580/apa-itu-hamil-anggur-mitos-dan-fakta-yang-perlu-diketahui-oleh-bumil

RS Syarif Hidayatullah – Menemukan benjolan pada payudara sering kali menimbulkan kekhawatiran dan kepanikan bagi banyak wanita. Anggapan bahwa setiap benjolan adalah kanker payudara masih sangat melekat di masyarakat. Padahal, secara medis, tidak semua benjolan pada payudara bersifat ganas.

Memahami perbedaan antara tumor payudara jinak dan kanker payudara (tumor ganas) sangatlah penting. Deteksi dini yang tepat bukan hanya memberikan ketenangan pikiran, tetapi juga menentukan langkah penanganan medis yang paling efektif.

tumor ganas vs jinaklustrasi perbedaan tumor jinak dibandingkan kanker payudara. (Foto: Dok.Mitra Keluarga)

Apa Itu Tumor Payudara dan Kanker Payudara?

Secara umum, tumor adalah pertumbuhan sel yang tidak normal atau berlebihan pada jaringan tubuh. Tumor terbagi menjadi dua kategori utama:

  1. Tumor Payudara Jinak: Merupakan benjolan yang pertumbuhannya lambat, tidak menyerang sel sehat di sekitarnya, dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain (tidak bermetastasis). Contoh umum adalah fibroadenoma mammae (FAM) dan kista payudara.
  2. Kanker Payudara (Tumor Ganas): Merupakan kumpulan sel abnormal yang tumbuh secara tidak terkendali, bersifat agresif, dan memiliki kemampuan untuk merusak jaringan sehat di sekitarnya serta menyebar ke organ jauh seperti paru-paru, hati, atau tulang.

9 Perbedaan Utama Tumor dan Kanker Payudara

Berdasarkan aspek medis, berikut adalah poin-poin yang membedakan keduanya:

  1. Mobilitas Benjolan: Tumor jinak biasanya terasa kenyal, bulat, dan mudah digerakkan (mobile) saat disentuh. Sebaliknya, benjolan kanker cenderung keras, permukaannya tidak rata, dan terasa terfiksasi (tidak bisa digerakkan).
  2. Pertumbuhan: Tumor jinak tumbuh sangat lambat, sementara sel kanker dapat berkembang dengan cepat dalam waktu singkat.
  3. Rasa Nyeri: Tumor jinak sering kali menimbulkan nyeri yang berkaitan dengan siklus menstruasi. Kanker payudara pada stadium awal justru sering tidak menimbulkan rasa sakit.
  4. Perubahan Kulit: Kanker payudara sering disertai perubahan kulit seperti kerutan (seperti kulit jeruk/ peau d'orange), kemerahan, atau luka yang sulit sembuh. Hal ini jarang terjadi pada tumor jinak.
  5. Kondisi Puting: Pada kasus kanker, puting dapat tertarik ke dalam (retraksi) atau mengeluarkan cairan bercampur darah.
  6. Penyebaran: Tumor jinak tetap di tempat asalnya, sedangkan kanker bisa menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak atau leher.
  7. Dampak Kesehatan: Tumor jinak tidak membahayakan nyawa, sedangkan kanker payudara berpotensi fatal jika tidak segera ditangani.
  8. Risiko Kekambuhan: Tumor jinak yang sudah diangkat jarang muncul kembali. Namun, kanker memiliki risiko kekambuhan (relaps) meski sudah menjalani pengobatan.
  9. Prognosis: Harapan sembuh untuk tumor jinak sangat tinggi. Untuk kanker, peluang kesembuhan sangat bergantung pada stadium saat pertama kali didiagnosis.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga kini, penyebab pasti mutasi sel pada payudara belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang terkena kanker payudara:

  • Faktor Genetik: Adanya riwayat keluarga dengan kanker payudara (mutasi gen BRCA1 dan BRCA2).
  • Hormonal: Paparan hormon estrogen yang tinggi, misalnya mulai menstruasi terlalu dini atau menopause yang terlambat.
  • Gaya Hidup: Konsumsi alkohol, merokok, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik.
  • Usia: Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama di atas 40 tahun.

Cara Mengatasi dan Pengobatan

Penanganan medis ditentukan berdasarkan jenis diagnosa yang ditegakkan oleh dokter spesialis bedah melalui pemeriksaan fisik, USG mammae, Mamografi, atau biopsi.

  • Untuk Tumor Jinak: Jika ukurannya kecil dan tidak mengganggu, dokter mungkin hanya akan melakukan observasi rutin. Namun, jika benjolan membesar atau menyebabkan nyeri, tindakan pengangkatan (lumpektomi) dapat dilakukan.
  • Untuk Kanker Payudara: Penanganan bersifat multidisiplin, meliputi operasi (mastektomi atau lumpektomi), kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal, hingga imunoterapi untuk mematikan sel kanker secara tuntas.

Kesimpulan

Penyakit tumor maupun kanker payudara merupakan kondisi yang perlu ditangani dengan tepat agar tidak menimbulkan gangguan berkepanjangan maupun komplikasi serius. Kesadaran untuk melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) setiap bulan adalah langkah awal yang sangat krusial dalam deteksi dini.

Apabila ditemukan benjolan, perubahan bentuk, atau keluhan tidak biasa pada payudara, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan pemeriksaan penunjang dan penanganan medis yang tepat.

“Deteksi Dini, Lindungi Diri, Jaga Kesehatan Payudara Sejak Dini.”

Ditinjau Oleh : dr. Kania Difa P, Sp.B

Referensi: 

Halodoc. (2025, 24 September). Tumor payudara: Penyebab, gejala, dan cara mengatasinya. Diakses dari https://www.halodoc.com/artikel/tumor-payudara-penyebab-gejala-dan-cara-mengatasinya

Alodokter. (2025, 24 Maret). Kanker payudara - Gejala, penyebab, dan pengobatan. Diakses dari https://www.alodokter.com/kanker-payudara

Rumah Sakit Royal Progress. (2025, 3 Februari). 9 perbedaan tumor dan kanker payudara, jangan sampai salah!. Diakses dari https://royalprogress.com/id/blog/spesialisasi-medis/pusat-kesehatan-wanita/perbedaan-tumor-dan-kanker-payudara/